Dosen,  Kuliah,  PhD

Menjadi Mahasiswa PhD di Hungaria: Kesan Pertama

Berfoto di depan Faculty of Edcuation and Psychology, ELTE

Sudah satu bulan saya tinggal di Budapest untuk melanjutkan studi PhD saya di kota ini. Saya mengambil kuliah di Doctoral School of Psychology di Eotvos Lorand University (ELTE) pada program Cognitive Psychology. Tulisan ini akan bercerita tentang kehidupan seorang PhD student di Hungaria. Tentu saja, setiap orang mengalami hal yang berbeda, dan tulisan ini adalah subjektif dari pandangan saya saat ini, jadi jangan digeneralisir dan bisa jadi pandangan ini juga akan berubah seiring berjalannya waktu.

Hungaria sepertinya memang masih belum menjadi tujuan favorit mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan kuliah. Baru tiga tahun belakangan ini beasiswa dari Hungaria mulai terdengar namanya, itupun selalu kuotanya tidak terisi penuh. Selain masalah bahasa dan tradisi, rangking universitas di Hungaria juga mungkin jadi pertimbangan. Rangking universitas di Hungaria memang tidak terlalu tinggi, kampus favorit di sini hanya nangkring di peringkat 500-an dunia. Tapi jika dilihat per bidang studi, banyak bidang studi tertentu yang peringkatkan masuk 100 besar dunia. Seperti kampus saya, ELTE, secara universitas rangking versi QS setara dengan Unair. Tapi jika dilihat bidang Psikologi, rangkingnya jauh di atas kampus di Indonesia, yaitu 200. Soal rangking ini juga balik lagi versi siapa sih, kalau versi THE atau CWUR rangkingnya jauh di atas universitas di Indonesia.

Sistem perkuliahan di Hungaria untuk jenjang PhD ini sedikit berbeda dengan negara-negara lainnya di Eropa. Di Belanda, Jerman, Swedia, atau Norway mahasiswa PhD biasanya dianggap sebagai pekerja yang pekerjaan utama adalah meneliti, Jadi mereka tidak wajib ikut kuliah di kelas. Tapi di Hungaria mirip seperti di Amerika atau Indonesia, kita masih diwajibkan mengikuti perkuliahan di kelas selama empat semester. Tapi di empat semester awal ini kita juga sudah harus memulai riset kita, setidaknya untuk mematangkan proposal disertasi kita. Jadi dua tahun ini kerjanya saling tumpeng tindih, kuliah dan penelitian. Di akhir semester empat kita ada complex exam, ini semacam ujian komprehensif untuk menentukan apakah kita layak untuk lanjut ke tahap berikutnya atau tidak. Jika lolos, kita baru bisa disebut PhD candidate, jika tidak, sorry to say perjalanan PhD kita berakhir.

Saya kuliah dengan beasiswa Stipendium Hungaricum, jadi jatah kita hanya empat tahun. Sayangnya berdasarkan cerita senior, sampai saat ini sangat sedikit mahasiswa yang bisa lulus dalam waktu empat tahun. Tapi ini tergantung dari kampus. Di ELTE untuk bisa mendaftar ujian disertasi, kita diwajibkan memiliki minimal tiga publikasi di jurnal (yang semuanya terindeks Scopus atau WoS) yang harus sesuai dengan topik disertasi kita, dan dua dari tiga publikasi itu haruslah empirical research. Publikasi ini juga harus dikutip dalam disertasi. Tentu saja syarat ini yang menjadi penghambat karena proses publikasi di jurnal top ini memakan waktu cukup panjang, bisa lebih dari setahun.

Perkuliah untuk mahasiswa PhD ini tidak seintensif mahasiswa master. Semester ini saya hanya mengambil tiga mata kuliah, namun tiap mata kuliah bobotnya 7 ETCS. Namun kuliah tatap muka (online/offline) rata-rata dilaksanakan hanya dua minggu sekali. Sisanya kita lebih banyak diberikan project seperti merivew jurnal, mengkritisi disertasi, atau menulis artikel. Tiap perkuliahan diisi dengan presentasi mahasiswa secara bergantian. Jadi kalau dilihat-lihat mahasiswa PhD ini jauh lebih longgar waktunya dibanding mahasiswa master. Jadwal kuliah juga sangat fleksibel, tergantung professor yang mengajar. Jadi kuliah PhD ini sangat tidak terstruktur, dan di situlah kadang jebakannya, kalau kita terlena bisa-bisa terbawa suasana santai.

Untuk perkuliahan sendiri lebih santai. Professor di sini sangat humble, lebih dekat dengan mahasiswa dan tidak memposisikan diri sebagai dewa. Suasana perkuliahan juga santai, dengan pakaian yang santai, lokasi yang santai (pernah saya kuliah di cafe), dan lebih banyak diskusi dibanding mendengarkan dosen ceramah. Tapi soal standar etika tetap harus dijaga, misal jika berhalangan hadir tetap harus memberi kabar ke dosen pengampu. Soal kehadiran ini memang tergantung dosennya, ada yang membebaskan asalkan seluruh tugas dikerjakan, tapi ada juga yang strict harus hadir minimal 80%. Tapi secara umum karena kita sudah PhD, kita harus lebih proaktif dalam belajar.

Untuk pembimbingan, saya beruntung memiliki supervisor yang masih cukup muda dan sangat cerdas (meskipun beberapa kali sangat jadi tidak paham apa yang sedang dia bicarakan saking pinternya). Dia lulusan Cambrigde, jadi saya sering merasa tidak PD  dengan aksen Indonesian English saya kalau dibanding Bristish aksennya (yang terdengar seperti orang berkumur-kumur bagi saya). Tapi dia tidak pernah menyinggung masalah ini kok. Seperti tipikal dosen lainnya, dia sangat humble, misal ketika janjian dia tahu akan terlambat, dia mengabari saya duluan. Begitu pula ketika saya sudah selesai bimbingan, dia mengantar saya sampai ke depan pintu ruangan. Ini sederhana sih, tapi baru kali ini saya diperlakukan seperti ini. Dia masih baru di ELTE, baru dua tahun ini dia pindah ke sini, jadi dia juga masih belum terlalu paham sistem dan administrasi. Selain itu dia tidak mengajar, hanya sebagai research fellow. Jadi kehidupan perkuliahan dan penelitian saya ini sangat terpisah. Kuliah ya kuliah, penelitian ya penelitian. Kuliah dengan dosen yang mengajar, penelitian dengan supervisor.        

Overall, perjalanan PhD ini sepertinya masih sangat panjang. Seperti yang selalui Kristof (supervisor saya) katakan, “Kamu punya waktu empat tahun di sini, gausah buru-buru, jalani satu demi satu tahapannya”. Benar, perjalanan PhD ini mungkin bukanlah perjalanan yang bisa dipandu dengan Google Map, yang tahap demi tahapnya sudah jelas. Perjalanan ini lebih seperti perjalanan memecahkan teka-teki. Ketika kamu berhasil memecahkan satu teka-teki, maka pintu lain akan terbuka dan kamu harus memecahkan teka-teki berikutnya, sampai akhirnya semua pertanyaan terjawab. Makanya dia selalu menyuruh saya tidak terburu-buru merancang desain penelitian. Lupakan dulu research plan yang kemarin digunakan untuk mendaftar, mulai dari preliminary study dulu, baru akan muncul pertanyaan-pertanyaan penelitian lain yang harus kamu jawab.

Faculty of Science, ELTE
Follow me in social media:

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published.