keluarga,  Refleksi

The Next Level of Our Marriage

Saya dan Yuni sudah menikah hampir tiga tahun, dan selama itu pula kami selalu bersama. Dia selalu menemani setiap fase perjuangan dalam hidup saya. Saya menikahinya dalam keadaan saya bukanlah siapa-siapa. Saat itu saya hanya mahasiswa S2 semester 3. Saya tidak memiliki pekerjaan dan hanya mengandalkan uang beasiswa sebagai penopang hidup kami. Dia bukan pacar saya, tapi saya mengenalnya sebagai teman baik saya. Saya mengenalnya sebagai orang yang ceria dan sederhana, dan entah mengapa saya yakin hari-hari penuh perjuangan saya nanti akan lebih tenang jika dilalui bersamanya. Suatu hari, saya menyatakan ingin menikahinya. Dia tidak mengiyakan, tapi juga tidak menolak. Dia hanya ingin saya berbicara langsung kepada orang tuanya, sayapun memberanikan diri mendatangi kedua orang tuanya di Sarolangun, Jambi.

Singkat cerita (meskipun sebenarnya sangat berliku), saya akhirnya mendapat restu dari orang tua saya dan orang tua Yuni untuk menikah. Sayapun menguras seluruh tabungan yang saya kumpulkan dari dua tahun bekerja di Sulawesi dan Jakarta untuk menikahinya. Saat itu tabungan saya benar-benar habis, hanya tersisa untuk mengontrak sebuah rumah sederhana beserta perabotannya. Kami memulai semuanya dari nol. Setelah satu bulan menikah, Yuni hamil, kami sangat bahagia. Kehamilannya tidak mudah, empat bulan pertama dia sering mual-muntah hingga berat badannya turun derastis. Sangat menderita melihat dia menderita, apalagi kami memiliki tanggungan menyelesaikan tesis kami. Selama empat bulan, dia hampir tidak menyentuh tesisnya sama sekali. Syukurlah kami bisa melewati fase sulit ini dan bulan-bulan berikutnya, kami merasakan betapa indahnya pernikahan kami. Kemana-mana selalu berdua, mengerjakan tesis bersama, ambil data bersama, dan saling menyemangati untuk menyelesaikan tesis kami. Hingga akhirnya kami bisa menyelesaikan tanggung jawab kami dan wisuda bersama, di usia kandungannya yang ke-7 bulan.   

Wisuda tentu menyenangkan, tetapi berarti juga membuat masalah baru bagi saya. Saya sudah kehilangan status mahasiswa saya, kehilangan beasiswa saya, dan menyandang status pengangguran. Untung saat itu saya masih mendapat beberapa project di Fakultas Psikologi UGM, sehingga kami masih bisa bertahan. Idealisme membatasi saya saat itu karena saya hanya mau menjadi dosen, sementara lowongan dosen tidak banyak saat itu. Saat itu saya sedang proses seleksi di UMS, tinggal satu tahap lagi, sampai akhirnya ada tawaran untuk menjadi dosen di UMM. Saya tidak berpikir untung-rugi di antara kedua pilihan yang ada saat itu, saya hanya berpikir mana yang memberi saya kepastian terlebih dahulu, itulah yang saya pilih. Saya sudah cukup muak ditanya petugas KUA ketika akan menikah, “Masnya pekerjaannya apa?”, dan saya tidak mau ketika anakku lahir status saya masih tidak jelas. Di UMM saya ditawari menjadi dosen Luar Biasa (LB) dan berkesempatan diikutkan seleksi untuk menjadi dosen DPK, sementara di UMS saya belum tahu kapan proses seleksi lanjutan akan dilaksanakan. Sayapun akhirnya memilih pindah ke Malang dengan kondisi Yuni mengandung 8 bulan. Kami tidak memiliki saudara atau teman sama sekali di Malang, tetapi begitu kami sampai, kami serasa ditolong oleh banyak orang sampai akhirnya Zidan terlahir ke dunia.

Selanjutnya, kami menjalani hari-hari yang menyenangkan sebagaimana sebuah keluarga kecil yang normal. Tinggal bersama, membesarkan anak bersama, memiliki status dan rutinitas sebagaimana rumah tangga normal lainnya. Kami bukan tidak pernah bertengkar, ngambek-ngambekan (seringnya dia sih yang ngambek), dan berbeda pendapat; tapi pada akhirnya kami bisa menyelesaikannya. Kami berbagi mimpi bersama, bagaimana nanti kita akan membangun rumah, bagaimana karir kita nantinya, kapan kita akan berangkat haji bersama, bagaimana kita membesarkan anak kita. Saya bukanlah orang yang romantis yang sering memberi surprise atau hadiah, tapi dia juga bukan orang yang suka menuntut. Kami belum memiliki rumah, mobil, dan standar materi keluarga ideal lainnya. Gaji bulanan yang saya terima juga tidak besar, dan dengan gaji ini tidak terbayang kapan bisa terkumpul untuk membangun rumah kita sendiri. Namun dalam kesederhanaan, saya merasa hidup bersamanya dan satu anak kami adalah sesuatu yang sempurna.  

Sampai akhirnya, di tahun kedua kami tinggal di Malang, saya memustukan untuk meninggalkannya. Saya mendapat beasiswa untuk sekolah S3 di Eropa, namun tidak memungkinkan untuk mengajaknya pergi bersama saat ini. Beasiswa ini bukanlah beasiswa yang memberikan keuntungan finansial yang banyak, hanya dapat dikatakan cukup. Akhirnya Yuni dan Zidan kembali ke Jogja dan saya berangkat ke Hungaria. Dan untuk kali pertama dalam kehidupan pernikahan kami, kami menjalani Long Distance Relationship (LDR). Saya sendiri punya pengalaman tidak enak dengan LDR, saya mengakhiri hubungan dengan satu-satunya mantan pacar dalam hidup saya salah satunya dipicu karena LDR. Tapi LDR dalam pernikahan jelas berbeda. Di antara aspek-aspek cinta yang lain seperti keintiman dan gairah, aspek komitmen menjadi satu pembeda utamanya. Komitmen membawa banyak gerbong diantaranya yaity tanggung jawab, dan membuang gerbong lainnya yaitu drama. Dan di sinilah kita sekarang, pada level lanjutan dalam pernikahan kita.

Kami sudah diuji dengan kesederhanaan, dan sekarang kami diuji dengan jarak. Di saat dia membutuhkan saya untuk mengasuh anak bersama, dan di saat saya membutuhkan dia untuk menemani masa-masa sulit beradaptasi tinggal di Eropa, kami tidak saling hadir secara fisik. Keputusan untuk lanjut sekolah ke Eropa adalah keputusan bersama, demi mimpi bersama. Dan selama mimpi itu masih menjadi mimpi bersama, kami akan bertahan, lebih kuat lagi. Jadi LDR ini adalah misi untuk menguji komitmen dan tanggung jawab kami bersama dalam menggapai mimpi bersama. Bukankah kebahagiaan hanya akan nyata jika dibagikan, jadi buat apa mengejar kebahagiaan sendiri. Jarak sudah memberi banyak pelajaran tentang ruang rindu, ruang sendiri, dan sepi. Tapi seperti kata sebuah lagu, kita hanya akan rindu matahari saat turun salju, hanya akan membenci jalanan saat rindu rumah, dan hanya akan tahu betapa kita mencitai orang saat kita berpisah dengannya. Dan malam ini saya merindukannya, sangat merindukannya. Yuni Kartika dan Ahmad Zidan Baraka, semoga semesta segera mempersatukan kita bertiga.

Dan tunggulah aku di sana

Memecahkan celengan rinduku

Berboncengan denganmu mengelilingi kota

Menikmati surya perlahan menghilang

Celengan rindu – Fiersa Besari

Follow me in social media:

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published.