Hungaria,  Refleksi

Kondisi Islam di Eropa Pasca Pembunuhan di Gereja Prancis

Sumber gambar: https://www.123rf.com/

Islamophobia di Eropa bukan baru muncul sekarang ini, tapi sudah puluhan tahun lalu. Ditilik dari sejarah, masuknya Islam ke Eropa juga bukan dilakukan dengan cara yang menyenangkan, yang tentu saja tidak semua orang bisa berdamai dengan masa lalu ini. Kejadian pembajakan pesawat pada September 2001 yang meruntuhkan Gedung WTC di Amerika Serikat seolah menjadi puncak stigmatisasi Islam sebagai teroris, terlepas dari segala dugaan konspirasi yang terjadi. Dan kejadian pembunuhan yang terjadi di Perancis minggu ini seakan memperparah keadaan dan memperkuat asumsi bahwa orang Islam adalah teroris.

Kejadiaan ini diawali oleh ditunjukkannya karikatur Nabi Muhammad oleh seorang guru yang mengajarkan pelajaran kebebasan berpendapat. Kejadian itu memacing kemarahan umat Islam di Prancis dan puncaknya guru tersebut dibunuh oleh oknum yang mengatasnamakan Islam. Menanggapi kejadian itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, berkomentar bahwa dia tidak dapat menerima bahwa kejadian karikuatur Nabi Muhammad itu dijadikan pembenaran untuk melakukan pembunuhan. Dia juga mengatakan serangan itu adalah serangan teroris Islam. Komentar Macron justru memancing kemaran yang lebih besar dari umat Islam dunia. Beberapa negara menyerukan untuk memboikot produk dari Prancis dan serangan kembali terjadi di gereja yang menewaskan tiga orang.

Apa yang terjadi di Prancis adalah sebuah dilema. Sebagai umat Muslim, tentu ketika Nabi Muhammad dihina tentu sudah sewajarnya marah karena memang bertentangan dengan ajaran Islam. Namun apa yang dikatakan Macron juga tidak salah karena dia membela ideologi negaranya. Prinsip negara Liberté – kebebasan, Fraternité – persaudaraan, Egalite – persamaan sedang dijunjung. Negaranya sudah menjamin kebebasan berpendapat bagi waganya dan ketika Yesus dihina dengan karikatur, dia juga tidak terlalu mempermasalahkan. Hanya saja melabeli kejadian ini dengan label teroris Islam tentu bukan pilihan yang bijak, ibaratnya dia sedang menyalakan api dalam tumpukan jerami. Semua teori Psikologi mengatakan betapa bahayanya labeling, baik bagi yang diberi label maupun orang lain. Dengan melabeli orang Islam sebagai teroris, orang yang tadinya memiliki sikap netral bisa ikutan memandang negatif Islam. Begitu juga bagi orang Islam, mereka akan malu untuk menunjukkan ke-Islamannya, dan ini justru mencederai kebebasan berekspresi yang dicita-citakan negara Prancis. Dan ini juga tidak jarang saya jumpai, teman-teman saya yang akhirnya melepas jilbab mereka saat kuliah di Eropa.

Sebagai Muslim yang saat ini sedang tinggal di Eropa, tentu ada sedikit kekhawatiran pada kami mahasiswa Indonesia bahwa kasus ini akan berdampak pada kelangsungan kehidupan kami. Beberapa teman bahkan tidak berani shalat Jumat karena takut ada serangan balasan di Hungaria, meskipun bagi saya ketakutan itu berlebihan. Tapi sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Hungaria tidak terlalu mempermasalahkan identitas agama kita, apakah Islam, Kristen, Yahudi, atau Ateis sekalipun. Hidup di Eropa relatif lebih fair dan menganggap agama adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan professional. Negara Eropa adalah negara sekuler, oleh karenanya makna toleransi umat beragama di Eropa ini tidak seperti di Indonesia. Toleransi di sini diartikan secara objektif, apapun agamamu, bagaimanapun cara beribadahmu, kami tidak peduli. Asalkan kamu berperilaku dan bekerja dengan standar kami, kamu akan diterima.

Sebelum berangkat ke Hungaria saya juga sudah tahu bahwa Hungaria adalah salah satu negara yang memiliki persepsi negatif pada Islam cukup besar di antara negara Eropa lainnya. Survey dari PEW Research Center tahun 2019 menunjukkan 58% warga Hungaria memiliki pandangan negatif terhadap Islam, dan hanya 11% warga memiliki pandangan positif terhadap Islam. Tapi angka ini jauh lebih baik dari survey tahun 2016 yang menyatakan 72% warga Hungaria memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Namun demikian kuota beasiswa sebagian besar juga diberikan kepada negara-negara dari Timur Tengah yang didominasi Islam. Sampai saat ini kami juga diperlakukan dengan baik. Beberapa teman memang ada yang bercerita masalah diskriminasi yang mereka alami di sini, tapi itu sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Sejauh ini pemerintah dan orang-orang di Hungaria bersikap professional dan fair dalam menerima kami dan benar-benar memisahkan masalah agama dengan masalah pemerintahan. Jikapun ada isu agama yang berkaitan dengan Islam, mahasiswa Indonesia relatif aman. Meskipun Indonesia adalah negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, tapi ketika orang Eropa mengatakan negara Islam, mereka akan merujuk pada negara-negara Timur Tengah dan tidak memperhitungkan Indonesia.

Urusan teroris ini tentu amatlah kompleks, dengan segala bentuk konspirasi dan kepentingan politik di dalamnya. Tapi sebagai Muslim, terlalu naif jika terus-terusan playing victim dan mengatakan ini adalah fitnah karena kenyataannya memang sebagian dari umat Islam terlalu mudah tersulut emosinya. Banyak yang memilih menggunakan cara kekerasan jika sudah berkaitan dengan harga diri keagamaannya. Bahkan parahnya mengkafirkan orang Islam lainnya karena tidak mendukungnya. Memang benar, di Al-Quran ada ayat-ayat yang menizikan kekerasan, tapi perlu diingat bahwa Al-Quran diturunkan tidak dalam satu waktu. Ayat dalam Al-Quran turun berdasarkan kondisi yang terjadi saat itu. Membaca hanya satu ayat kemudian dijadikan suatu pembenaran melakukan kekerasan tentu tidak bijak karena konteksnya berbeda, padahal lebih banyak ayat lain yang lebih mengajak pada perdamaian.

Beberapa negara Eropa sudah dengan tegas menolak migrasi Islam masuk ke negara mereka karena khawatir Islam tidak mampu berintegrasi dan justru menimbulkan kantong-kantong separatis. Tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak negara yang menutup pintu untuk Islam. Memang menjadi sebuah pertanyaan, apakah mungkin prinsip kebebasan yang dianut oleh Eropa bisa berdampingan dengan prinsip kesakralan Islam. Negara-negara Eropa adalah negara sekuler yang menganggap agama bukanlah apa-apa dan itu adalah urusan pribadi. Masalahnya, sebagian besar orang Islam menganggap agama adalah segalanya. Inilah yang diragukan oleh sebagian pihak apakah Islam dapat berintegrasi di Eropa jika pola pikirnya masih tidak berubah.

Pada tatanan politik global, ini terlalu kompleks untuk dipikirkan. Di Indonesia kita punya pepatah, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, jadi sudah sepatutnya pula kita terapkan ketika berada di Eropa. Pada akhirnya, tugas sebagai individu Muslim adalah menjadi duta Islam yang baik. Seperti kata Khabib Nurmagomedov, Orang Non-Muslim tidak membaca Al-Qur’an dan Hadist. Yang mereka baca adalah dirimu, maka jadilah cerminan Islam yang baik. Sebagai pendatang, sebagai minoritas, tentu tidak bijak jika kita meminta orang Eropa mengikuti kepercayaan dan gaya hidup kita. Jadi daripada meminta pihak kampus menyediakan tempat untuk sholat, lebih baik membawa sajadah kemanapun dan sholatlah dimanapun asalkan nyaman dan tidak mengganggu orang lain.

Follow me in social media:

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *