Beasiswa,  Hungaria,  keluarga,  Kuliah,  Stipendium Hungaricum

Mengurus Visa Reunifikasi Keluarga ke Hungaria

Perjalanan ke hungaria
Istri dan Anak sedang perjalanan ke Hungaria

Akhirnya saya sekarang sudah berkumpul kembali bersama anak dan istri di Hungaria. Rasanya sudah sedikit lebih tenang, meskipun itu berarti saya juga harus menyesuaikan Kembali ritme hidup yang sudah tertata sebelumnya. Tulisan ini akan bercerita tentang proses pengurusan visa untuk keluarga, serta hal-hal apa saja yang harus disiapkan untuk reunifikasi keluarga di Hungaria. Tulisan yang bercerita tentang mengurus visa bagi awardee dapat dilihat di sini ya

Tanggal 29 Maret kemarin, akhirnya istri dan anak saya resmi mendarat di Budapest, Hungaria, dan akan tinggal Bersama saya di sini selama masa studi saya. Proses pengurusan visa ke sini untuk istri dan anak sebenarnya tidak terlalu ribet, tapi karena ada masalah dengan akte lahir istri saya, makanya prosesnya jadi sedikit lebih lama. Kami mulai menyiapkan dokumen visa ini sejak Januari 2021 dan baru resmi memperoleh visanya pada awal Maret 2021. Nah dokumen apa saja yang harus disiapkan? Berikut saya berikan check listnya.

NoNama DokumenCeklis
1Form Application Residence Permit (untuk anak dan istri/spouse) 
2Form lampiran family reunifikasi (form ini diisi nama kita, karena merupakan appendix application residence permit istri/spouse) 
3Pas foto standar visa schengen 
4Kartu Keluarga (KK) 
5Akte Kelahiran kita dan keluarga (asli dan legalisir dari kementerian) 
6Buku nikah (asli dan legalisir dari kementerian) 
7Certificate of employment (bagi yang bekerja) 
8Bank reference 
9Paspor (Disiapkan copyannya) 
10Letter of Award dan Letter of Admission 
11Kontrak flat/apartment 
12Landlord statement (menyatakan bahwa memberi izin kepada keluarga kita untuk tinggal di flat yang disewa) 
13Invitation Letter (ini inisiatif buat sendiri aja, tidak ada format khusus) 
14Asuransi (saya pakai Sinarmas yang bisa dibeli di Traveloka) 
15Itinerary (booking tiket keluarga dari CGK-BUD) 
16Buat jaga-jaga, bawa ijazah istri aja beserta copyannya, klo dibutuhkan penyesuaian data 

Nah bagaimana proses mengurus dokumennya? Berikut saya jelaskan detailnya. Informasi resmi sebenarnya bisa dibaca di halaman ini http://www.oif.gov.hu/index.php?option=com_k2&view=item&layout=item&id=54&Itemid=808&lang=en. Termasuk untuk form nomer 1 dan 2 pada checklist, bisa didownload di halaman tersebut. Untuk form nomer 1 diisi dengan identitas istri dan anak kita, sementara untuk form lampiran nomer 2 diisi dengan identitas kita sebagai pihak yang mengundang.

Langkah pertama tentu melengkapi form aplikasi nomer 1 dan 2. Selain itu yang butuh waktu lama adalah menyiapkan dokumen akta lahir, kartu keluarga, dan buku nikah yang dilegalisir oleh kemenlu. Sayangnya Kemenlu hanya mau melegalisir jika dokumen tersebut sudah dilegalisir oleh kementrian yang menerbitkan. Untuk akte dan KK kita minta legalisir terlebih dahulu ke Kemenkumham, sementara buku nikah dilegalisir ke kemenag. Kemarin untungnya ada kenalan yang bekerja di Kemenkumham, jadi bisa dimintain tolong sekalian untuk mengurus proses legalisir sampai ke kemenlu. Untuk seluruh dokumen istri dan anak (rangkap 3) kemarin menghabiskan biaya sekitar 2 juta Rupiah. Tapi ini masih mending lah, daripada harus ngurus sendiri ke Jakarta bolak-balik.

Proses legalisir ini yang memakan waktu cukup lama kemarin. Apalagi akte lahir istri bermasalah (ada bagian yang ditulis tangan oleh Capil), jadi dari Kemenkumhan tidak mau melegalisir. Terpaksa harus mengurus pembetulan akte ini, padahal yang menerbitkan aktenya dari Jambi, dan istri sekarang tinggal di Jogja. Tapi akhirnya setelah dilempar kesana-kemari masalah terselesaikan. Kalau semua dokumen sudah OK, maksimal 2 minggu lah kita sudah selesai legalisir dokumen.

Kemudian certificate of employee ini juga dibutuhkan, terutama jika masih bekerja. Karena saya masih tercatat sebagai dosen di UMM, jadi saya mintakan surat ke Pak Dekan, sekaligus keterangan bahwa saya masih memperoleh gaji pokok saya karena status saya adalah tugas belajar. Dokumen ini cukup penting, karena pihak imigrasi Hungaria tentu akan memperhitungkan apakah kita mampu menanggung biaya hidup anak istri kita selama tinggal di Hungaria nanti. Kalau pemasukan hanya dari uang beasiswa saja, tentu akan kurang, jadi dokumen ini bisa jadi penguat. Selain itu kita juga menunjukkan bank reference yang menjelaskan bahwa kita memiliki tabungan yang cukup. Untuk bank reference kemarin saya melampirkan dua, satu atas nama istri dari bank di Indonesia, dan satu atas nama saya dari bank di Hungaria. Tidak ada minimal nominal pasti, yang jelas semakin besar semakin baik.

Kemudian siapkan juga paspor yang kadaluwarsanya lebih dari 6 bulan. Kalau kurang dari 6 bulan, mending perpanjang dulu deh. Siapkan juga Letter of Award dari pemberi beasiswa (TPF) dan Letter of Admission dari kampus untuk jaga-jaga. Untuk kontrak flat, pastikan nama kita tertulis sebagai penyewanya. Kalau bisa masukan juga nama anak dan istri dalam kontrak sewa flat. Tapi kalau tidak, mintakan surat pernyataan dari landlord (pemilik flat) bahwa dia memberikan izin kepada anak dan istri kita (sebutkan namanya) untuk tinggal di flat tersebut. Dalam kasus saya kemarin, nama istri dan anak tidak tercantum dalam kontrak, tapi ada di surat pernyataan.

Untuk invitation letter, ini ada banyak versi memang. Ada yang mengatakan kita harus mengurus ke kantor imigrasi di Hungaria untuk dibuatkan invitation letter secara resmi, ada juga yang mengatakan kita bisa buat sendiri. Kalau kasus saya kemarin saya buat sendiri. Jadi hanya membuat surat yang intinya mengundang istri dan anak saya untuk tinggal bersama saya di Hungaria dan menyatakan bahwa seluruh biaya hidup mereka kita tanggung. Dan dengan surat itu oke-oke saja.

Untuk tiket kita bisa beli online. Tapi untuk ngurus visa kita tidak perlu tiket asli, cukup bookingannya saja, yang penting ada tanggal keberangkatannya kapan. Saya kemarin pakai jasa travel agent. Alternatifnya bisa pakai booking.com. untuk asuransi perjalanan, saya pakai Sinarmas yang paket basic visa Schengen, dan setahu saya ini yang paling murah dibanding asuransi perjalanan yang lain. Asuransi ini bisa dibeli di aplikasi Traveloka, harganya 250 ribuan. Beberapa teman juga menyertakan asuransi kesehatan untuk anak istri selama satu bulan pertama tinggal di Hungaria dari asuransi di Hungaria. Tapi dalam kasus saya, saya ga melampirkan itu dan oke-oke saja.

Untuk prosesnya, setelah semua dokumen kita lengkap, kita tinggal membuat janji melalui email dengan kedutaan besar Hungaria di Indonesia untuk wawancara visa. Mereka akan memberikan opsi tanggal dan kita bisa menentukan. Jika tanggal dan jam sudah disepakati, istri tinggal datang ke Jakarta sesuai waktu yang ditentukan dengan membawa semua dokumen yang dipersyaratkan. Anak di bawah 6 tahun tidak perlu ikut hadir ke Jakarta. Wawancara berlangsung cukup santai kok, pewawancaranya juga bisa bahasa Indonesia. Jadi bagi keluarga yang tidak bisa bahasa Inggris, tenang saja. Yang ditanya seputar rencana nanti selama tinggal di Hungaria, misal: mau kerja ga? Mau punya anak lagi ga? Kalau ada anak, anaknya mau sekolah ga? Kita tinggal jawab saja sesuai keadaan diri masing-masing. Selesai wawancara, kita diminta untuk membayar. Pokoknya kemarin kalau dirupihakan, untuk visa anak dan istri kita bayar 3,6 juta, itu sudah termasuk ongkos kirim visa ke alamat rumah kita.

Setelah dua minggu dari wawancara, istri dapat kabar bahwa visa sudah disetujui dan sedang dikirim ke rumah. Besoknya visa langsung nyampai di rumah. Setelah itu tinggal pesen tiket yang fix untuk berangkat ke Hungaria. Kemarin istri sudah dapat harga tiket yang normal, untuk istri dan anak kemarin kena 14 jutaan, dari Jakarta ke Budapest pakai Qatar. Kenapa pakai Qatar? Ini yang paling direkomendasikan kedutaan dan tidak butuh tes PCR. Setelah sampai di Budapest, istri diminta mengisi form Kesehatan dan pernyataan karantina mandiri. Setelah 10 hari menjalani karantina mandiri, barulah kita bisa bebas mengeksplorasi kota Budapest.

Follow me in social media:

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

4 Comments

  • Mutiara

    Apakah persiapan mengurus visa ini berlaku sama untuk orang tua? Misal ingin mengajak Ibu menemani selama studi disana nantinya?
    Terima kasih

  • Ayu Indrayathi

    Halo Mas Hanif,saya baru baru menjadi awardee SH,apa ada pengalaman dari teman teman Mas yang membawa anak usia sekolah?bagaimana sistem sekolah disana ya?ini saya emak emak galau mau ninggalin anak S3 di Debrecen hihihi

    • Hanif Akhtar

      Halo Mbak Ayu, selamat ya. Banyak mbak, yang kebanyakan sih usia TK atau SD, tapi ada juga yg SMP/SMA. Sudah masuk grup kan mbak? Bisa ditanya di grup saja biar yg punya pengalaman langsung njawab. Anak saya masih 2,5 tahun soalnya, dan baru mau masuk TK semester depan

Leave a Reply to Ayu Indrayathi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *