Hungaria,  Refleksi

Nonton Euro Tanpa Masker, Memangnya Hungria Sudah Bebas Covid?

Suasana Nonton EURO di Puskas Ferenc Stadium, Budapest

Saat orang Indonesia menyaksikan ribuan supporter sepak bola di Eropa bisa berkumpul di stadion secara bebas tanpa masker, justru kasus Covid di Indonesia sedang meningkat derastis. Dan rekreasi yang cukup menarik bagi saya adalah membaca komentar netizen Indonesia. Muncul beberapa suara dari netizen Indonesia, setidaknya bisa saya klasifikasikan menjadi tiga tipe. Tipe pertama adalah tipe teori konspirasi. Mereka umumnya bilang, “Tuh kan Covid itu ga ada. Tuh lihat di Eropa, orang udah berkumpul tanpa masker. Di Indonesia aja yang Covidnya ga selesai-selesai karena masih jadi lahan bisnis”. Tipe kedua adalah tipe neurotis. Mereka umumnya bilang, “Iih orang Eropa ini sudah gila ya. Mereka berkumpul gitu tanpa masker. Apa mereka ga memikirkan keluarga dan tetangga mereka. Kalau begini, kapan Covid akan berakhir”.Tipe ketiga adalah tipe optimis. Mereka umumnya bilang, “Tuh di Eropa situasi Covid sudah terkendali. Kalau kita tertib seperti mereka, kondisi Covid di Indonesia juga pasti akan membaik”.Nah saya jelaskan dulu beberapa fakta seputar EURO di Budapest yang saya tahu. Pertama, Euro 2020 ini unik karena dilaksanakan di banyak negara. Dari sekian lokasi, hanya di Budapest saja yang berani membuka stadion dengan kapasitas penuh. Di negara lain masih dibatasi, maksimal 50% dari kapasitas stadion. Alasannya beragam, mulai dari alasan ekonomi, nasionalisme, sampai alasan olah raga. Khusus Hungaria, saya bisa memahami Euforia yang cukup besar, ditambah pemerintahnya yang konservatif nasional. Hungaria ini memiliki sejarah bagus di sepak bola. Beberapa kali menjadi runner-up piala dunia dan memiliki legenda terkenal, Puskas Ferenc. Namun dalam 30 tahun terakhir ini Hungaria seolah tenggelam tidak pernah ikut kejuaraan besar, dan baru kali ini berpartisipasi lagi di ajang bergengsi seperti EURO. Jadi bisa dipahami jika euforianya sangat tinggi, apalagi Hungaria tergabung di grup maut bersama Prancis, Portugal, dan Jerman.Kedua, pada titik seperti di Indonesia saat ini (9% warga divaksin), pembatasan di Hungaria saat itu masih sangat ketat. Jam malam dibatasi sampai jam 20.00, masker wajib di semua tempat, restoran tidak boleh makan di tempat, bahkan sempat semua toko ditutup, selain groceries store dan apotek. Jadi pada titik 9% warga di vaksin, di Hungaria itu masih seperti lockdown. Saat ini, di Hungaria sudah 55% warganya sudah divaksin, sehingga mulai diberikan pelonggaran.Ketiga, untuk menonton EURO juga tidak semua orang bisa masuk stadion. Hanya orang yang sudah divaksin atau yang bisa menunjukkan hasil PCR negatif saja yang boleh masuk. Aturannya juga selama pertandingan, supporter harus tetap mengenakan masker. Sudah diworo-woro terus lewat pengumuman, tapi ya banyak yang ngeyel. Tapi memang memakai masker sekarang ini di Hungaria itu menderita sekali. Sekarang lagi musim panas, suhunya ekstrem panas, lebih panas dari Jakarta deh, suwer. Jadi saya pikir penyelenggara juga bukan tanpa perhitungan.Nah ketiga fakta ini sudah bisa membantah orang-orang tipe teori konspirasi lah ya. Covid ada, dan peristiwa di EURO ini tidak bisa dijadikan pembenaran kalau Covid sudah tidak ada. Menjawab pertanyaan tipe neurotis, “Kok bisa berkumpul banyak gitu tanpa masker? Kalau di Indonesia panitianya sudah dipenjara ini”. Mungkin Anda ada benarnya, tapi jangan dikira panitia dan para supporter ini tidak memikirkan resiko menonton tanpa masker. Dengan asumsi yang boleh masuk adalah orang-orang bersih, seharusnya sudah aman, terlebih aturan terbaru pemerintah Hungaria juga mencabut kewajiban memakai masker. Mungkin ada baiknya jika mereka juga melihat susahnya proses dulu, tidak hanya melihat enaknya hasil akhir sekarang. Saat ini, di Hungaria sudah 55% warganya sudah divaksin, dan tren kasus Covid semakin menurun. Secara bertahap pelonggaran diberikan. Pelonggaran dimulai dari menghapus jam malam, lalu membolehkan berkumpul dalam jumlah kecil di outdoor, lalu membolehkan melepas masker saat outdoor, lalu membolehkan makan di restoran outdoor, lalu membolehkan makan di restoran indoor bagi yang sudah divaksin. Pada akhirnya berita hari ini mengabarkan pemerintah akan mencabut kewajiban memakai masker secara total di semua tempat. Pelonggaran demi pelonggaran diberikan dengan patokan jumlah kasus dan jumlah warga yang sudah divaksin. Kenapa patokannya jumlah warga yang divaksin? Memangnya kalau sudah divaksin sudah pasti aman? Ya setidaknya itulah yang diyakini pemerintah sini, tentunya berdasarkan hasil riset dan pendapat ahli, bukan pendapat influencer. Semakin banyak warga divaksin, tentu semakin cepat tercapai herd immunity. Di Hungaria, vaksin China juga dipakai, selain vaksin Western (Pfizer, Moderna, Astra Zaneca, dkk). Banyak juga yang meragukan vaksin China di sini, terlebih vaksin ini belum disapprove Uni Eropa (karena alasan medis maupun politis). Tapi toh vaksin ini juga sudah diapprove oleh WHO.Pembatasan di Hungaria ini kontrolnya beneran ketat. Instruksi terpusat dari pemerintah. Informasi mengenai pembatasan atau pelonggaran terdistribusi baik dan tegas, tidak multitafsir. Banyak aturan, sedikit himbauan, jadi kalau boleh ya boleh, kalau enggak ya enggak. Kalau jalan-jalan ke tempat wisata, sedih karena banyak toko yang dijual/disewakan karena tidak mampu beroperasi. Sekarang warga di sini sedang menikmati hidup normal setelah sekian lama “dipenjara”. Kalau berkaca pada kasus tahun lalu, kasus tahun ini mungkin juga mirip. Pada musim panas (bulan Juni-Agustus), jumlah kasus menurun dan warga hidup normal. Tapi pada bulan September kasus naik, dan lockdown lagi. Bukan tidak mungkin pola ini juga akan terjadi tahun ini. Tapi kalau September nanti tidak terjadi peningkatan kasus (semoga), say thanks to vaccine. Tidak ada alasan lagi untuk meragukan vaksin.

Follow me in social media:

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published.