Hungaria

Kesan Pertama Datang Melihat Budapest

Berfoto di Fisherman’s Bastion

Budapest, kota yang indah, katanya, merupakan ibu kota negara Hungaria. Kota ini berada di jantung benua Eropa, terbagi atas dua wilayah Buda dan Pest yang dipisahkan oleh sungai Danube. Bukan tujuan favorit orang untuk melanjutkan kuliah, tapi pada akhirnya saya sekarang terdampar di sini dan akan menghabiskan waktu empat tahun ke depan membersamai perjalanan PhD saya. Sayangnya, saya mengawali perkenalan dengan Budapest dengan dengan cara yang berbeda, dikarantina 14 hari di kamar dormitory. Saya datang ke Hungaria tanggal 2 September 2020, tepat satu hari sejak pemerintah Hungaria mengubah kebijakan menjadi wajib karantina bagi orang yang baru datang dari luar negeri. Saya menghabiskan waktu karantina bersama dua teman dari Indonesia.

Saya mulai cerita ini dari kedatangan saya di Hungaria. Sebagai kota di Eropa dan katanya menjadi tujuan banyak turis, bandara kota Budapest benar-benar di luar dugaan saya. Bandara Budapest ini jauh lebih kecil kalau dibandingkan dengan bandara di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, atau Makasar. Tapi hal ini wajar karena arus penerbangan di bandara ini tidak sepadat bandara di Indonesia karena tidak ada penerbangan domestik di sini. Kami di jemput oleh teman-teman PPI dan di antar ke tempat tinggal kami masing-masing. Saya pergi ke dormitory naik bus. Harga tiket bus satuan di sini sangat mahal, kalau dikonversi ke Rupiah sekitar 15 ribu untuk sekali jalan, dan bisa dibeli langsung di mesin tiket. Tapi kalau kita membeli paketan bulanan, harganya jauh lebih murah, apalagi untuk pelajar. Dalam perjalanan ke dormitory inilah saya mulai melihat Budapest dengan ketidaksempurnaannya. Masih banyak vandalism, banyak sampah, banyak bangunan kosong terbengkalai, ada pengemis, dan banyak ketidaksempurnaan lainnya. Hanya sebatas inilah saya melihat kondisi Budapest, karena sisanya saya harus menjalani karantina. Untung selama karantina kami bisa membeli logistik secara online, jadi kebutuhan kami tetap terpenuhi.

Budapest Eye

Selepas 14 hari menjalani karantina, saya boleh keluar. Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli SIM card Handphone dan membeli tiket transportasi bulanan. Dua hal ini adalah kebutuhan pokok karena selama minggu-minggu awal ini saya butuh mengurus administrasi seperti mengambil residence permit, membuat student card, membuat nomer pajak, membuka rekening bank, mengurus asuransi, dll. Selama masih baru, Google Map merupakan sahabat utama saya yang sangat membantu menentukan arah dan tujuan perjalanan saya. Satu hal yang paling saya kagumi dari Budapest adalah sistem transportasinya yang rapi. Ada beberapa mode transportasi di sini, ada Bus, Trolley Bus, Metro, Tram, dan Kereta Suburban. Dengan membeli tiket bulanan, kita bisa naik semua moda transportasi ini sepuasnya. Semuanya ontime, nyaman, dan terintegrasi dengan sangat baik.  

Dalam hal pelayanan publik, orang-orang di sini sangat kooperatif dan helpful. Prinsipnya percaya dan kalau bisa dimudahkan, mengapa dipersulit. Misalkan ketika kita lupa mengcopy satu dokumen yang seharusnya dicopy, mereka akan membantu melakukannya. Tidak seperti di Indonesia, biasanya kita disuruh pulang lagi untuk mengcopynya, ga peduli antriannya seberapa panjang. Ini yang sepertinya pembeda utama dengan di Indonesia. Meskipun demikian, ada pegawai di kantor pelayanan publik tidak bisa Bahasa Inggris. Secara sistem juga saya pikir ada banyak hal yang bisa disederhanakan birokrasinya.

Terima kasih kepada Kartu Jenius (bukan promosi ya), karena banyak membantu selama saya masih belum punya mata uang local di sini. Mata uang resmi Hungaria adalah Forint, dan tidak ada yang menjual uang Forint ini di Indonesia. Dengan Jenius semuanya lebih mudah karena tinggal tap saja, tanpa perlu mikir banyak hal. Potongan konversi Rupiah ke Forint juga tidak terlalu besar, lebih kecil daripada kita menukar uang di Moneychanger. Kita juga bisa ambil uang tunai Forint di ATM dengan kartu Jenius ini.

Mengenai tata kota, landmark Budapest ini merupakan kota klasik. Jadi bangunan-bangunan di sini mayoritas bangunan klasik, yang sudah tua, namun masih terawat dengan baik. Jarang sekali ada bangungan dengan model arsitektur modern, apalagi Gedung pencakar langit karena memang regulasi pemerintah saat ini melarang pembangunan gedung yang lebih tinggi dari 96 m. Tempat wisata di sini juga banyak wisata sejarah yang menampilkan bangunan kuno eksotis khas Eropa. Beberapa tempat wisata yang terkenal di kota ini adalah Gedung Parlemen, Fisherman’s Bastion, Buda Castle, Heroes Square, City Park, Saint Stephen Basilika, dll. Semuanya nampak lebih indah jika dilihat saat malam hari. Wisata alam di kota ini tidak banyak, paling kita bisa melihat kota dari ketinggian dengan berkunjung ke Citadela.  

St. Stephen’s Basilica

Orang-orang di sini individualis dan sangat menjunjung tinggi privasi, namun mereka juga helpful. Sebagian besar generasi tua tidak bisa berbahasa Inggris, dan banyak lansia yang tinggal di sisi Buda. Cuaca di sini juga unpredictable. Meskipun sekarang baru mau masuk musim gugur, tapi suhunya sudah cukup dingin, rata-rata sekitar 11-16 derajat celcius. Rasanya sulit menceritakan semua di sini. Mungkin lain kali saya buat videonya saja supaya lebih terbayangkan. Di lain waktu saya juga akan bercerita tentang kesan pertama kuliah dan bertemu supervisor.  

Follow me in social media:

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published.