Hungaria,  Kuliah,  PhD,  Stipendium Hungaricum

Sistem Perkuliahan di Hungaria

Gedung rektorat ELTE

Universitas di Hungaria sudah mengikuti sistem Bologna Process, di mana universitas di Hungaria bisa memberikan gelar Bachelor, Master dan Phd dan bisa ditransfer atau dipakai untuk melanjutkan pendidikan di negara Uni Eropa lainnya. Tulisan ini akan memberikan gambaran sistem perkuliahan di Hungaria dan perbedaanya dengan di Indonesia. Dikarenakan saya saat ini menempuh Pendidikan S3 di Hungaria, jadi saya akan memberi proporsi lebih untuk informasi sistem kuliah S3 di Hungaria.

Sistem perkuliahan di Hungaria secara garis besar tidak berbeda jauh dengan di Indonesia, baik pada level S1, S2, maupun S3. Level S1 (Bachelor) umumnya ditempuh dalam waktu tiga tahun di Hungaria. Sistem perkuliahan juga sama, ada teori, ada praktikum, dan ada skripsi. Skripsi di Hungaria disebut thesis (portfolio), jadi semacam kumpulan research practice dan salah satunya harus dibuat full research yang bentuk akhirnya seperti naskah publikasi dengan maksimal 8000 kata (tidak lebih dari 25 halaman). Bedanya, di Hungaria skripsi tidak nampak seperti dewa atau karya monumental, biasa saja, apalagi tidak ada dorongan untuk sampai mempublikasikan hasilnya. Portfolio ini lebih untuk melihat kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan teori dan metodologi yang sudah diperoleh sebelumnya, selain daya kritis dan sistematika berpikir tentunya. Jadi tidak perlu sampai bertahun-tahun hanya untuk menyelesaikan portfolio ini, sama seperti tugas kuliah biasa saja.

Untuk level S2 (master) secara garis besar juga tidak berbeda jauh dengan di Indonesia, biasanya ditempuh dalam waktu dua tahun. Sistem perkuliahan sama, ada teori, praktikum, dan tesis. Untuk cara belajarnya mungkin sedikit berbeda. Di Hungaria pembelajaran lebih interaktif dan tugas lebih banyak diberikan dalam bentuk tugas individu. Mungkin karena mahasiswanya sedikit juga kali ya, jadi dosennya juga hapal satu per satu mahasiswanya. Hanya saja menurut beberapa teman, kuliah master di Hungaria jauh lebih padat dibanding di Indonesia. Jika di Indonesia dalam satu semester mungkin hanya mengambil 6 mata kuliah, di Hungaria dalam satu semester bisa mengambil setidaknya 10 mata kuliah. Untuk tesis secara garis besar juga sama dengan di Indonesia, hanya saja tesis di Hungaria biasanya sudah ditentukan topiknya. Jadi tiap awal semester diumumkan topik yang dibuka beserta supervisornya, kemudian mahasiswa mendaftar sesuai dengan minatnya masing-masing.

Untuk level S3 (PhD) biasanya diselesaikan dalam waktu empat tahun. Tahun pertama dan kedua didominasi dengan kegiatan perkuliahan di kelas. Setidaknya dalam dua tahun pertama, mahasiswa sudah harus menyelesaikan 84 kredit atau setara 12 mata kuliah. Mata kuliah yang diambil ditentukan berdasarkan modul yang harus diselesaikan, dan modul ini sudah ditentukan saat kita diterima. Jadi dalam Letter of Acceptance (LoA) sudah ditulis topik riset kita, supervisor kita, dan modul yang harus diselesaikan. Selain perkuliahan, di dua tahun pertama mahasiswa juga harus melakukan penelitian dan mengajar. Kegiatan penelitian bisa berupa melalukan preliminary study riset kita, kajian literatur, mengikuti konferensi ilmiah, atau menulis artikel ilmiah. Sementara kegiatan mengajar sifatnya tidak wajib, boleh diganti dengan kegiatan penelitian. Tapi biasanya program akan meminta kita, terutama untuk mengajar di kelas internasional pada level bachelor atau master. Total kredit keduanya minimal adalah 36 kredit untuk dua tahun pertama. Untuk besaran kredit penelitian dan mengajar ini biasanya disepakati dengan supervisor dan coordinator program tempat kita mengajar, sesuai dengan beban kerja kegiatan yang dilakukan.

Di akhir tahun kedua, mahasiswa setidaknya sudah harus memiliki 120 kredit untuk bisa mendaftar complex exam. Complex exam ini adalah checkpoint yang menentukan apakah kita berhak lanjut ke fase kedua studi doktoral kita. Jika lulus, kita baru bisa dikatan PhD candidate, tapi jika tidak lulus, sorry to say, kita harus mengakhiri perjalanan PhD kita. Complex exam ini terdiri atas dua komponen, ujian teori atas mata kuliah yang sudah kita pelajari dan ujian atas rencana riset yang akan kita kerjakan. Ujian teori mata kuliah bersifat lisan, dan mata kuliah yang diujikan ditentukan oleh dewan penguji. Jika tidak lulus ujian mata teori ini, mahasiswa boleh mengulang satu kali lagi. Sementara ujian riset berkaitan dengan seberapa paham riset yang akan dikerjakan dan visibilitas untuk diselesaikan. Biasanya mahasiswa sudah memiliki hasil preliminary study akan topik risetnya saat ujian ini, karena memang di dua tahun awal mereka juga sudah mulai mengerjakan risetnya. Kalau tidak lulus ujian riset ini, perjalanan PhD kita berakhir.

Jadi fase pertama, yakni tahun 1 dan 2 ini sangat menentukan perjalanan PhD kita. Di dua tahun awal ini mahasiswa tidak hanya dituntut menyelesaikan mata kuliah dengan baik, tapi juga sudah harus mulai mengerjakan risetnya. Tentu akan menjadi nilai plus jika selama dua tahun awal ini sudah ada publikasi yang dihasilkan. Di fase kedua, mahasiswa fokus untuk menyelesaikan risetnya. Jika dilihat bebannya, seperti di fase kedua ini nampaknya lebih selo ya, tapi sebenarnya tidak juga. Di Hungaria, rata-rata kampus menetapkan bahwa untuk bisa ujian disertasi, mahasiswa sudah harus memiliki publikasi di jurnal bereputasi. Standarnya berbeda-beda, kalau di kampus saya minimal tiga artikel dan dua diantaranya harus artikel empiris (bukan kajian literatur). Artikel yang dipublikasikan ini harus dikutip dalam disertasi kita. Ini yang kadang menyulitkan karena untuk publikasi di jurnal bereputasi itu prosesnya panjang sekali.

Jadi itulah sekilas mengenai sistem perkuliahan di Hungaria. Untuk level S3 sistem perkuliahan lebih mirip dengan di Indonesia dibanding dengan negara Eropa lainnya yang mayoritas sudah full riset. Untuk sistem di level S1 dan S2 pun tidak berbeda jauh. Namun demikian kultur akademik di Hungaria lebih kuat dan jelas berbeda dengan di Indonesia. Di Hungaria kelas lebih aktif, kasual, menuntut daya kritis dan kedudukan dosen-mahasiswa lebih setara. Jadi, meskipun tidak sepopuler di Amerika, Inggris, atau Belanda; kuliah di Hungaria tetap menjadi opsi yang baik untuk merasakan iklim akademis di Eropa. Pengalaman saya mendaftar beasiswa dari pemerintah Hungaria, mulai dari mencari supervisor, seleksi universitas, sampai mengurus visa bisa disimak di sini (Part 1, Part 2, Part 3).

Follow me in social media:

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.